Melisa Bersabda

Sabda sesat, tidak memukau nalar, tidak mengguncang iman

Kasus Ul**ma DKV 2009 di F*c*book 15 November 2011

Filed under: Uncategorized — melisamaya @ 5:44 PM

Jangan merasa ya…

Kan bisa saja maksudnya: Kasus Ulama DKV 2009 di Fuckbook

Hohohohohohoho

Jadi, hari ini saya mendapat pelajaran yang berharga

bahwa kita harus berhati-hati dan mawas diri sebelum mempost sesuatu

di group suatu jejaring sosial macam F*c*book,

karena bisa saja post Anda tidak berkenan di hati sang admin,

lalu postnya di delete.

Maka dari itu, sebelum mengepost sesuatu hendaknya…

postnya dicopas dulu dan diprint secreen

huahahahahahahahahaha.

Ehem, eniwei…

Hal itu benar-benar terjadi pada saya.

Jadi, di kampus saya terjadi suatu kebijakan di mana semua mata kuliah harus ada ujian teorinya.

Menurut saya, walau itu disebut kebijakam,

tapi itu adalah kebijakan yang tidak bijak karena:

1. Memang mata kuliahnya bukan mata kuliah teori.

Coba bayangkan jika mata kuliah TV Commercial misalnya…

yang menentukkan bagus tidaknya nilai Anda bukanlah seberapa bagus iklan buatan Anda

melainkan seberapa jago Anda mengarang indah tentang definisi iklan.

2. Barbar

Selama sekolah, kita dijajah oleh sistem pendidikan yang bobrok,

di mana otak kiri lebih diutamakan,

dan keahlian otak kanan dianggap tidak penting.

Jadi, sangat mengecewakan jika sistem pendidikan setingkat perguruan tinggi,

masih saja menggunakan sistem pendidikan “barbar” itu.

3. Merepotkan

Para dosen pun keberatan karena dengan diadakannya ujian teori

mengharuskan para dosen untuk membuat soal teori.

Apalagi meriksanya jawabannya…lebih semaput lagi.

Maka dari itu, ada soal ujian yang agak nyeleneh

karena ada dosen yang hanya membuat soal sekadar untuk formalitas

dan melarang mahasiswanya menjawab lebih dari 1 halaman.

Good job!

4. Kasihan mahasiswanya

Masalahnya dengan diadakannya ujian teori, bukan berarti ujian praktek ditiadakan.

Lah, ujian praktik “doang” aja, para mahasiswa sudah begadang berhari-hari,

apalagi ditambah ujian teori?

Selain itu, hasil tidak maksimal, karena mahasiswa harus buru-buru mengerjakan tugas prakteknya,

agar memiliki waktu untuk belajar teori.

Berdasarkan poin-poin di atas, saya pun mengepost di group Ul**ma DKV 2009

di jejaring sosial F*c*book, sebagai berikut:

Kepada bapak/ibu yang bertanggung jawab atas hal ini,

tanpa mengurangi rasa hormat, saya mohon dengan amat sangat sekali

agar UTS dan UAS semester depan tidak lagi memaksakan ujian teori

pada mata kuliah yang memang bukan teori.

Saya sudah berhari-hari tidak tidur bla-bla-bla

*curhatlah pokoknya, saya sendiri tidak hafal*

Mungkin harus ada yang tewas dulu, baru kebijakannya dimelisawikanmanusiawikan.

Selain itu, saya dengar pengadaan ujian teori tersebut dilatarbelakangi alasan yang absurb

yakni karena bapak/ibu ybs.  merasa mahasiswa DKV terlihat santai

(hanya datang, mengumpulkan tugas, lalu pulang).

Saya harap saya salah dengar, karena menurut saya alasan tersebut sangat mengecewakan

untuk ukuran kerangka berpikir setaraf universitas.

Terima kasih.

Itulah yang saya tulis.

Tadinya saya kira post saya (seperti biasa) akan sepi dan berlalu begitu sja.

Namun, begitu saya buka lagi tiba-tiba sudah ada belasan “like”. *sori norak*

Ketika like mencapai kepala dua, barulah sang admin comment.

Commentnya kalau tidak salah berbunyi kira-kira seperti ini:

Fokuskan diri dulu pada UTS.

Jangan negative thinking. Be happy.

Bla-bla-bla (^_^)” <<< serius ada emotikon begini.

Ketika like mencapai kepala 4…

…post saya didelete.

…Padahal tadi bilangnya be happy.

…Padahal saya sudah menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar

sesopan mungkin

Yah…silahkan delete saja sih…

Toh saya masih memiliki blog ini dan jejaring sosial lain

Ahahahahahahahahaha

Asal jangan saya yang didelete (berasa rezim Soeharto)

Anyway, setelah didelete ternyata ada yang protes.

Ini printscreennya. (Siapa tahu didelete lagi)

Setelah membaca hal di atas, sebenarnya saya ingin comment panjang lebar,

karena saya menemukan banyak ketidak konsistenan.

Yakni:

1. Si Ul**ma Angel (laki-laki, by the way) berkata bahwa:

“…facebook bukanlah ajang untuk memberikan inputan secara resmi…”

Padahal post-post di bawah adalah informasi tentang

perubahan ruang ujian dan informasi pemberian tugas.

Apakah pemberian tugas itu tidak resmi?

Berarti ga usah dikerjain dong?

Lalu kenapa saran saya dianggap resmi?

Hanya karena saya menggunakan bahasa resmi?

Hanya karena saya tidak menggunakan emoticon (^_^)?

Hanya karena saya tidak ngelike post saya sendiri?

2. Ul**ma Angel berkata:

“…tertulis secara resmi dan diberikan kepada akademik adalah langkah yang bijak…”

Yup, langkah yang bijak.

Sebijak menghapus post orang lain.

UUD 45 Pasal 28E tentang Hak Asasi Manusia:

Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.

Ehem… Abaikan.

Cuma bermaksud mengaplikasikan mata kuliah wajib Kewarganegaraan

yang sudah dipelajari di semester 1 itu. Ahem…

Lagipula kampus saya selalu mengaku sebagai kampus multimedia berbasis ICT,

tapi hanya untuk memberi saran saja, hanya boleh melalui satu media,

yakni media tertulis.

Sungguh multimedia!

Padahal surat lamaran kerja saja bisa lewat e-mail

dan CV saja bisa melalui web ataupun transfer data via flashdisk.

Perlu diingat surat lamaran kerja itu resmi toh?

Jika alasan jangan memberi saran di Facebook agar tidak dilihat publik

(biasa.. kampus baru takut gak laku kalau orang luar baca),

perlu diingat bahwa group tersebut bersifat limited.

Jadi hanya member yang bisa melihat secara keseluruhan.

3. Ul**ma Angel mengakhiri komennya dengan:

“…segera menuliskan inputan dan saran, kami tunggu (^_^)

Padahal komen di post yang didelete itu berbunyi:

Fokuskan diri pada UTS dulu!

eh sekarang nyuruh SEGERA nulis surat resmi.

Sungguh konsisten… <<< majas Ironi by the way

Kemudian, yang dimaksud kami itu siapa?

Kalau saya tahu harus menuliskan surat ke mana,

saya juga tidak bakal ngepost di situ.

Seperti yang saya tulis di post saya:

Kepada Bapak/Ibu yang bertanggungjawab atas hal ini…

Jelas-jelas itu sudah menggambarkan bahwa saya tidak tahu

siapa Bapak/Ibu yang mencetuskan/menyelenggarakan/whatever kebijakan ini.

Bahkan jenis kelaminnya saja saya tidak tahu!

Gimana mau nulis surat?

Updated!!!

Saudara-saudara, baik yang terkasih maupun yang terkasihani

Berikut ini adalah update kelanjutan kasus ini:

Jadi pada hari Rabu lalu saya mendapat message dari seseorang

di bagian akademik atau semacam itu di kampus saya.

Isi messagenya adalah saya disuruh mengambil surat dari Ul**ma Angel.

Membaca itu, saya merasa sangat sebal karena:

1. Suratnya ditujukan buat saya tapi harus saya sendiri yang ambil.

Berasa penting banget.

2. Udah sih itu aja.

*Minta ditabok*

Berhubung saya selalu memilikirkan kemungkinan terburuk,

maka saya pikir hal terburuk yah…

Palingan saya di-DO alias drop out alias yang diterjemahkan menjadi dijatuhkan di luar.

Saya sih oke-oke saja.

Memang sih sayang banget kalau ngulang dari awal.

Tapi toh semua orang sukses dulunya kan di-DO,

misalnya Bill Gates.

Makanya siapa tahu, setelah di-DO saya malah jadi sukses <<adegan ini dilakukan oleh profesional, jangan ditiru.

Ibunda saya pun dengan entengnya berkata:

“yauda, kalau di-Do tinggal nyari kampus baru.”

Teman saya, si Kr*sta, gadis nista dari Perumahan B*nong juga berkomentar:

“tenang aja mel, kalo lu di-DO, pasti gua bela kok.

Gua bakal bikin group: 10 Juta Pendukung Melisa Maya di Facebook”

Saya pun menimpali dengan:

“Mending bikin penggalangan dana berjudul:

Koin Cinta Melisa.”

Ehem.. Eniwei…

Hari Kamis pun saya mengambil surat itu dan

ternyata isinya adalah saya disuruh untuk menghadap ke Ul**ma Angel.

Jeng! Jeng! Jeng!

Berikut isi selengkapnya

(saya ketik sama persis, berikut pembetulan eyd-nya):

Dengan surat ini (harusnya dikasih tanda koma)

saya (saya itu siapa?) selaku kepala program study (proram study?)

Fakultas Desain Komunikasi Visual (DKV mah jurusan, bukan fakultas)

ingin memberitahukan kepada:

Nama: Melisa Maya

NIM: xxxxxxxxxxx

Untuk datang (ke mana? tanggal? jam?) memenuhi surat panggilan ini

mahasiswa wajib menemui Ketua program study desain komunikasi visual (DKV)

(kalimat ambigu dan tidak efisien,

di atas menyebut diri sebagai kepala fakultas,di sini ketua program studi,

desain komunikasi visual? Huruf kapital ke mana ya?)

yaitu bapak *beep* (Kata sapaan harusnya diawali huruf kapital)

Demikianlah surat panggilan ini, Atas (kenapa koma?) perhatiannya (nya?)

saya ucapkan terima kasih.

Saya makin sebal karena:

1. Gak efisien banget sih.

Saya dapat surat yang isinya untuk mengambil surat

yang isinya perintah untuk memenuhi surat panggilan

dengan datang ke kantornya. *ngos-ngosan*

Kenapa gak langsung nyamperin saya aja.

Beres kan?

2. Merepotkan saya banget

Udah saya yang ngambil surat,

saya pula yang harus datang ke kantornya.

Oleh karena itu, kakak saya menyarankan saya untuk membuat surat panggilan balasan

yang isinya adalah:

Dengan surat ini, saya, Melisa Maya,

mahasiswi Fakultas Seni dan Desain, ingin memberitahukan kepada:

Nama: (nama sebenarnya dari *beep*)

Species: Alien

Bahwa saya tidak dapat memenuhi surat panggilan Bapak,

akibat aktivitas saya yang padat. Oleh karena itu, diharapkan Bapak memenuhi surat panggilan balasan ini,

dengan menemui saya di (alamat lengkap, tanggal , jam).

Demikianlah surat panggilan balasan ini. Atas perhatian Bapak, saya ucapkan terima kasih.

Huahahahahaha

Lagian beraninya di kandang kantor sendiri

Coba ke rumah saya…

yang dipenuhi ayahanda, ibunda, kakanda, dan adinda saya

beserta anjingda-anjingda saya.

Huh!

 

3 Responses to “Kasus Ul**ma DKV 2009 di F*c*book”

  1. feri Says:

    serang terus mbak demi peradaban umat manusia….

    ngobrol-ngobrol beneran proyek novel??

    diposting diblog gak?

  2. melisamaya Says:

    proyek novel? ahahaha kayaknya batal tuh. kata pengantarnya aja gak jadi jadi

  3. feri Says:

    perang dunia, bakalan berjatuhan banyak korban… jaga jarak..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s