Melisa Bersabda

Sabda sesat, tidak memukau nalar, tidak mengguncang iman

Keluarga Cullen yang Baru: Semut 24 Juni 2010

Filed under: Uncategorized — melisamaya @ 2:10 PM

Halo pembaca ataupun tidak ada pembaca.

Selama liburan, saya jadi rajin menulis blog.

Ya, sebab selama liburan saya tidak ada kerjaan.

Penyakit insomnia saya pun kembali menyerang.

(Sepertinya penyakit ini hanya menyerang saya di saat saya ingin menikmati liburan panjang).

Tolong maafkan saya bila isi blog ini semakin tidak normal.

Semua itu karena saya menulis blog ini dalam keadaan gatal-gatal.

Bukan karena saya wanita gatal,

tapi karena saya diserang dari dua arah

oleh saudara-saudarinya Edward Cullen

yakni nyamuk dan semut.

Edward Cullen

Nyamuk Cullen

Semut Cullen

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ya agak sulit membedakan mereka bertiga.

Mungkin, para semut dan nyamuk itu membalaskan dendam saudaranya itu

yang selalu saya hina dina setiap kali ada kesempatan,

atau mungkin saya memang terlalu manis.

Sepertinya kemungkinan yang kedua lebih masuk akal.

Sejujurnya, nyamuk dan semut adalah hewan yang paling saya benci!

Sekalipun suatu hari nanti mereka akan menjadi hewan langka,

saya tidak akan berusaha melestarikannya.

Saya bahkan tidak akan merindukan mereka sekalipun mereka punah.

Malah jangan-jangan sayalah kontributor terbesar dalam pembasmian nyamuk dan semut.

HUAHAHAHAHAHAHAHAHA (tawa jahanam)

Duh.. Duh.. Tuh kan saya digigit lagi.

Memang manusia-manusia pada umumnya lebih membenci hewan-hewan semacam:

kecoak, ular, kelabang, belatung, cicak, tikus, tikus got, politikus, dan lain-lain.

Malah sebagian besar dari mereka cenderung teriak-teriak histeris jika melihat hewan-hewan nista itu.

Saya juga tidak menyukai mereka tapi saya tidak akan teriak-teriak seolah saya adalah fans berat mereka.

Oh! Pernah satu kali saya teriak-teriak!

Namun saya rasa semua orang pun akan berteriak

jika saat kita membuka pintu

tiba-tiba ada sesuatu yang menimpa leher kita

dan ketika kita pegang, rasanya dingin dan empuk,

dan ketika kita lihat ternyata itu adalah ular hitam yang besar nan gendut.

Sumpah, ini kisah nyata.

Ular jahanam itu tidak sadar berat badannya sendiri.

Leher saya terasa sakit, untungnya sih tidak patah.

Dasar, apakah ular itu pikir saya pembawa acara Wildlife?

Kembali lagi ke semut.

Sejak kecil saya memang sudah sentimen dengan semut.

Saya tidak akan mau menyentuh benda yang disemutin.

Malah saya cenderung refleks akan membanting benda yang disemutin,

dan entah kenapa saya bisa membaui semut, terutama semut merah.

Menurut saya, bau mereka seperti bau Bayg*n, obat nyamuk paling cihui abad ini.

Sehingga sewaktu kecil saya menyebut mereka semut Bayg*n.

(Seperti biasa, saya memang tidak kreatif dalam memberi nama).

Kenapa tiba-tiba saya membahas makhluk nista ini?

Saya tiba-tiba membahas semut sebab binatang bedebah itu mengganggu acara makan malam saya.

Tadi saya lapar, jadi saya memasak makanan kebanggaan seluruh rakyat Indonesia: Indomie.

Ternyata begitu saya buka bungkusnya, di dalamnya ada puluhan semut.

Bahkan ada yang saking genitnya sampai-sampai naik ke tangan saya. Hiiiiii!

Sekarang saya mengerti kenapa di permainan suit

gajah bisa dikalahkan semut.

Mungkin Indomie-nya si gajah juga disemutin.

 

2 Responses to “Keluarga Cullen yang Baru: Semut”

  1. Mega Says:

    Iya, semut dan nyamuk memang jahat. Kalo semut dan nyamut punah adakah yang akan menagis?

  2. melisamaya Says:

    @Mega: ya itu…
    saudara mereka yg nangis
    si edward cullen


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s