Melisa Bersabda

Sabda sesat, tidak memukau nalar, tidak mengguncang iman

Petualangan Melisa 4 April 2010

Filed under: Uncategorized — melisamaya @ 7:03 PM

Bukan, ini bukan judul film anak-anak.

Salam sejahtera pembaca.

Kemarin saya dan 5 orang teman sekelas saya pergi ke Bogor untuk berburu gambar.

Biasalah… Untuk mata kuliah fotografi (sok keren).

Kemarin kami berangkat dengan menggunaka bus tanpa AC.

(Bukan karena saya melakukan gerakan pencegahan global warming

melainkan karena memang saya ‘kere’ alias tidak punya uang.)

Untungnya perjalanan saat berangkat cukup menyenangkan:

bus sempat ‘digebuk-gebuk’ oleh supir bus lain yang (merasa) mobilnya disalip

dan ‘diteriakin’ “monyet” oleh seorang pengendara motor.

Sungguh tontonan yang menarik.

Hari itu kami pun memuaskan diri memotret objek-objek yang menarik

seperti: diri sendiri, diri sendiri berpose erotis, diri sendiri candid,

dan diri sendiri dengan pose Manohara.

Intinya 90% dari foto yang kami ambil merupakan potret diri kami sendiri.

Silahkan sebut saya ‘katro’, ‘norak’, maupun ‘gak gaul’,

tapi ini adalah pertama kalinya saya mengunjungi Kebun Raya Bogor!

Jreng! Jreng! Jreng!

(Kok bangga?)

Dengan kunjungan ini,

saya baru mengetahui bahwa

ternyata Raflessia arnoldi dan bunga bangkai adalah dua tumbuhan yang berbeda

(begitu menurut bapak-bapak yang menjadi semacam tour guide).

Bunga bangkai adalah bunga yang mengeluarkan bau ketek tidak sedap saat penyerbukan.

Sedangkan Raflessia adalah bunga yang merupakan parasit.

Sayangnya (atau malah untungnya) saat ini bunga bangkai tersebut sedang dalam fase dormansi,

jadi saya tidak bisa mencium aroma ketek bangkai tersebut.

Kemudian, malam-malam kami nonton film Korea

yang ceritanya (mengaku) seperti gabungan antara Battle Royale dengan Saw.

Judulnya Death Bell (butuh waktu yang lama bagi saya untuk mengingat judulnya).

Ternyata film tersebut termasuk salah satu film super ‘geje’.

Ya, film ini memang seperti gabungan antara Battle Royale dan Saw.

Film ini mewarisi ‘kegejean’ film Saw (bukan kesadisannya).

Film ini juga mewarisi ‘ada-karakter-ngompol’ dari film Battle Royale.

Keesokan harinya alias hari ini,

kami pulang dari Bogor.

Namun, perjalanan pulangnya sungguh menyiksa.

Pertama, saat saya sedang asik-asik bengong di bus,

tiba-tiba rambut saya seperti dijambak dari belakang.

Awalnya saya pikir ibu-ibu berjilbab putih di belakang saya tidak sengaja menjambak rambut saya.

Tapi ternyata selama beberapa menit rambut saya terus dijambak

dengan sengaja! S E N G A J A !!!!

Saya pun menutupi rambut saya dengan topi teman saya agar tidak dijambak lagi.

Ibu-ibu berjilbab tersebut kemudian pindah tempat duduk

ke samping belakang saya.

Lalu dia menepuk-nepuk pundak saya!!!!!

Saya pun menoleh dan “AARGHKHH@#$!@#$%#%$”

langsung terperangah…

(Untungnya saya tidak memiliki penyakit gagal jantung.)

T E R N Y A T A, she is HE!!!

Ibu-ibu berjilbab putih itu ternyata adalah… adalah… (tak mampu berkata-kata).

Si bukan-wanita-tapi-juga-bukan-pria yang berdandan super menor itu,

memalak saya!!!

Baru kali ini saya dipalak b@nci!!!

Manusia yang meningkari kodratnya itu berkata, “minta seribu! Buat ongkos!”

Awalnya saya bersikap acuh tak acuh.

Namun b@nci tersebut terus menepuk pundak saya dengan kecepatan 3 tepokan/detik!!!!

Akhirnya teman saya berkata, “udahlah kasih aja…”

Saya pun terpaksa, tidak ikhlas, tidak ridho, dan sama sekali tidak rela

menyerahkan uang sebesar 1000 Rupiah,

sebab saya telah kehilangan beberapa helai rambut

tapi masih harus kehilangan uang….

Ternyata belum puas memalak saya,

dia pun mencolek-colek teman-teman saya yang lain.

Untungnya mereka sedikit lebih beruntung.

Mereka tidak kehilangan helaian rambut maupun uang,

sebab kami sudah ‘keburu’ ganti bus.

Ternyata kesialan yang menimpa saya tidak berhenti di situ.

Layaknya sinetron…

Ceritanya: Saat saya hendak turun dari bus,

si supir busnya ‘malah nancep gas’!!!!!

Berhubung tangan kanan saya memegang tas, dan tangan kiri saya memegang oleh-oleh,

saya pun menahan badan saya yang sudah mau ‘nyungsep’ itu

dengan menggunakan pergelangan tangan bertumpu pada besi pintu bus.

“Coba bayangkan betapa sakitnya~” (Ebiet G. Ade)

Jika diasosiasikan atau dianalogikan, atau apalah…

Rasanya itu seperti:

Jika Anda meletakkan pergelangan tangan A nda di atas penggaris besi di bagian yang tajam

kemudian sebuah beban 50kg menimpa tangan Anda tersebut.

“Coba bayangkan betapa sakitnya~” (Ebiet G. Ade)

Alhasil pergelangan tangan saya seperti diiris.

Darah, daging, dan nanahnya sedikit terlihat.

“Coba bayangkan betapa….(AAARGHHHHHH)

..

Sekian

 

2 Responses to “Petualangan Melisa”

  1. Domi Says:

    Wkkk hidup lu emang penuh gejolak Melmay…..
    Sumpah, gw ngakak abz pas baca ini😄

  2. melisamaya Says:

    Ihihihihihihihihi
    ah bisa saja domi
    akyu jadi malu
    ihihihihihihihi (najong abis)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s